HALSEL, MALUKU UTARA – Gelombang kekecewaan petani hortikultura di Kabupaten Halmahera Selatan semakin membesar. Anjloknya harga tomat dan cabai di tingkat petani kembali memicu sorotan terhadap masuknya pasokan komoditas serupa dari Manado, Sulawesi Utara, yang diduga menguasai pasar lokal.
Di tengah polemik tersebut, nama seorang aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas di Puskesmas Wayaua, Fajar Maulana, disebut oleh sejumlah petani sebagai pihak yang diduga terlibat dalam distribusi tomat dan cabai dari luar daerah ke Pasar Labuha dan Pasar Babang.
Dugaan itu mencuat setelah petani mengaku kesulitan menjual hasil panen mereka karena pedagang telah lebih dahulu menerima pasokan dari luar daerah melalui sistem titip jual.
“Pedagang tidak lagi membeli hasil panen kami karena barang dari luar sudah masuk lebih dulu. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, petani bisa gulung tikar,” ujar Uni Yanti, salah seorang warga.
Keluhan serupa disampaikan petani Amrullah. Menurutnya, setiap musim panen harga tomat dan cabai selalu jatuh ketika pasokan dari luar daerah masuk ke Halmahera Selatan. “Modal tanam jutaan rupiah, tetapi saat panen harga sudah hancur. Kami yang menanggung semua kerugian,” katanya.
Para petani menduga komoditas tersebut rutin masuk melalui Pelabuhan Kupal sebelum didistribusikan ke sejumlah pasar di Halmahera Selatan. Mereka meminta aparat penegak hukum menelusuri jalur distribusi tersebut untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Selain meminta aparat melakukan penyelidikan, petani juga mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera mengambil langkah konkret untuk melindungi hasil pertanian lokal, termasuk mengatur arus masuk komoditas hortikultura dari luar daerah saat musim panen berlangsung.
Mereka menilai pemerintah tidak boleh membiarkan petani lokal kalah bersaing di daerahnya sendiri tanpa adanya kebijakan yang berpihak pada produksi dalam daerah.
“Kalau pemerintah tidak segera bertindak, kami akan turun ke jalan. Kami hanya meminta negara hadir melindungi petani yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa,” tegas salah seorang perwakilan petani.
Hingga berita ini diterbitkan, Fajar Maulana belum memberikan tanggapan atas dugaan yang disampaikan para petani. Upaya konfirmasi juga telah dilakukan kepada pihak Puskesmas Wayaua dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, namun belum memperoleh respons. (Slm)
Editor : **



Discussion about this post